LPA Lebak : Film G30S PKI Berangkat Dari Kisah Nyata

716 views

Oman Rohmawan (bediri) Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Lebak saat Memeberikan sosialisasi beberapa Waktu yang Lalu

 

LEBAK, BANTENDAY.com – Tak mudah kiranya untuk  dipukul rata melarang atau pun mengizinkan anak menonton film tersebut. Pasalnya, anak adalah individu berusia 0 hingga seblm usia 18 tahun. Individu berumur 4 tahun dan 17 tahun, walau sama-sama berusia anak, namun punya dinamika psikologis yang berbeda jauh satu sama lain. Kesiapan mereka untuk menonton suatu film pun berbeda satu dan lainnya.

Hal tersebut dikatakan Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Lebak Oman Rohmawan, menurutnya, film Pengkhianatan G30S PKI  berangkat dari kisah nyata tentang peristiwa sejarah. Dan tema historis tersebut memang sudah sepantasnya diketahui  generasi  muda.

“ Mari kita menepi sebentar dari sisi adegan film. Untuk proses pembelajaran yang baik adalah yang memberikan rangsangan multiinderawi kepada anak,  pemanfaatan film sebagai kelengkapan kegiatan belajar, termasuk belajar sejarah, sesungguhnya sudah menjadi praktek jamak. Dan itu  sangat bagus,” kata Oman kepada Bantenday.com Selasa (19/9/2017).

Namun kegiatan belajar memang sepatutnya tidak hanya mengandalkan film Lanjut Oman, Apalagi riset-bukan pemikiran awam– menemukan bahwa pendekatan yang paling pas adalah kepada anak juga disodorkan teks tentang substansi yang sama dengan tema film. Teks bisa dimodifikasi menjadi narasi lisan yang sebobot. Teks, pemutaran film, dilanjutkan dengan ajakan pendidik kepada anak untuk mengekspresikan apa yang mereka pikirkan dan ini acap terkesampingkan apa yang mereka rasakan.

Ditambahkan Oman, campur aduk perasaan yang dialami anak saat menonton film dijadikan sebagai pintu masuk bagi pendidik untuk mengedukasi anak tentang bagaimana mengidentifikasi kaitan antara situasi, perasaan, dan cara mengelolanya.  Simpulkan nilai kesetiaan pada bangsa dan negara, keyakinan pada kebenaran dan keadilan, penyerahan diri pada pertolongan Tuhan, penghormatan akan jasa pahlawan, serta optimisme akan masa depan. Akhiri dengan menggali ide anak tentang bagaimana mencegah terulangnya tragedi serupa. Begitu urutannya.

“Ingat, kearifan adalah produk dari kekuatan kognitif dan kepekaan afektif. Memang  membawa kejadian dan situasi masa silam ke masa kini boleh jadi bukan hal gampang. Pendidik, utamanya guru maupun orang tua, harus  memiliki wawasan juga agar bisa mendampingi anak meniti lintasan sejarah dengan tepat,” papar Oman,

Ditegaskannya,  film yang bagus di tangan pendidik yang buruk, tak akan banyak faedahnya. Sebaliknya, film yang buruk di tangan pendidik yang baik, manfaatnya bagi anak justru bisa berlipat ganda.

“Nah, dari situ kita bisa katakan, apakah anak menonton atau pun tidak menonton film Pengkhianatan G30S PKI, lebih ditentukan oleh kesiapan pendidik dalam mendampingi anak. Kalau pendidik merasa gamang, ikuti suara hati. tinggalkan, itu dalil hakiki. Ayo, ajak anak berkaryawisata bersama ke Museum Jenderal Nasution, Museum Jenderal Yani, dan Monumen Kesaktian Pancasila. Biarkan anak menjadi sutradara di imajinasi mereka masing-masing tentang masa kelam itu, pungkasnya. (LNH)

 

 

 

Editor : Lukmanul Hakim

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Penulis: 
author

Isi dengan Komentar anda...