Warga Tangsel Aksi Blokir Jalan

573 views

Warga Tangsel saat mediasi dengan Perusahaan PT. Marga Trans Nusantara ( Foto : Soegeng Bantenday) 

 

​TANGSEL, BANTENDAY.com- Belasan pemuda yang mengatasnamakan karang taruna dan beberapa warga RW 10 kelurahan Jombang Kecamatan Ciputat Kota Tangerang Selatan, melakukan aksi penutupan akses jalan beberapa jam di lokasi proyek pembangunan tol Kunciran-Serpong tahap 2 yang melalui Parigi-Serpong, Jum’at,  (22/7/2017).

 

Aksi ini diduga sebagai wujud protes dari para pemuda setempat yang selama ini meminta agar diberdayakan sebagai pekerja dilokasi tersebut yang dikerjakan PT. Marga Trans Nusantara (MTN) sebagai anak perusahaan PT Jasa Marga melalui Pelaksana proyek Kerja Sama Operasional (KSO) PT Acset Indonusa Tbk dan PT Adhi Karya. Hal tersebut diatas juga dibarengi pemblokiran akses jalan agar tak boleh dilewati kendaraan maupun alat-alat berat yang melakukan aktifitas pengerjaan proyek.

 

Dalam penjelasannya Ketua Karang Taruna RW 10 Abe Mulyana, hal ini dilakukan sebagai aspirasi para pemuda supaya untuk dipekerjakan. Dan ia juga mengakui bahwa sosialisasi daripada salah satu bagian kewajiban pelaksana proyek ini memang dari pelaksana sudah, tapi belum dijalankan. 

 

” Kita tunggu dan menanti terus hingga saat ini belum dipekerjakan, sedangkan dampak dari proyek ini, antara lain bising, debu,” katanya.

 

Ia juga melanjutkan, bahwa kompensasi jalan yang ditutup biasanya harus dipikirkan jalan penggantinya, tapi itu belum dijalankan pula oleh pihak pelaksana. Sembari mengingatkan,  bila aksi penutupan akses jalan pada hari ini adalah dari yang punya tanah, bukan dari karang taruna.

 

” Kebersamaan aja, barengan mewakili masyarakat yang punya hak yang belum dibayarkan,” ujarnya.

 

Sementara itu sang pemilik tanah saat dilokasi, saat diwawancari wartawan, Marsan (47) dan  Markum (57) merasa kecewa, karena lahan miliknya sudah digarap pelaksana proyek. 

 

” Ini kan aneh. Berkali-kali kami klarifikasi ke BPN, jawaban tidak pernah sama,” ujar kedua-duanya.

 

Pihaknya menuntut hak dan memberikan tenggang waktu satu pekan.  “Jika tidak berhasil tetap saya pagar, tutup,  jangan salahkan kami, jika selama ini hanya sering mendapat janji- janji dengan berbagai alasan, kita kecewa,” tegasnya. 

 

Pihaknya juga takut, bila hal ini terhambat pembangunannya, disangkakan gara-gara kami.

 

Aksi tersebut dapat pengawalan ketat dari petugas keamanan, dan mencoba memediasi untuk memberitahukan hal ini agar keluhannya disampaikan langsung ke pimpinan pelaksana oleh beberapa orang perwakilan warga.

 

Proses mediasi pun berlanjut di ruangan barak kantor pimpinan pelaksana  KSO Project, Raja Mutia. Usai berbicara dengan perwakilan warga, diruangannya, Raja Mutia menjelaskan kepada wartawan, bahwa warga setempat menuntut untuk diberdayakan kerja. 

” Namun kita ketahui saat ini kita masih dalam tahapan striping, kita akan memberdayakan mereka setelah pengerjaan struktur berjalan, Insya Allah mulai pekan depan atau sepuluh hari kedepan kita akan mempergunakan masyarakat”, ujarnya. 

 

Ditambahkannya, masalah lain sih tidak ada, ini hal biasa, tradisi,  karena ada lahan terbebaskan tapi belum dibayar, nah ini lagi kita proses.

 

Lebih kurang daerah situ ada 29 bidang, sudah dalam proses pembayaran. Sosialisasi pelibatan warga untuk diberdayakan, menurutnya sudah pernah disampaikan melalui surat, melalui Ketua RT hingga ke kelurahan, seluruh Muspida, hingga lapisan masyarakat, sudah kita sosialisasikan.

 

“ Target lahan yang terbebaskan namun nyatanya belum dibayar, akan diselesaikan hingga akhir Juli ini harus sudah selesai. Kita ngga mau menghambat progress pembangunan kita,” pungkasnya. (Soegeng)

  • Penulis  : Soegeng
  • Editor    : Lukmanul Hakim
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Penulis: 
author