Sebatangkara dan Lumpuh, Nenek Muk Ditemukan Petugas Coklit di Gubuk Reyot

221 views

Nenek Muklinah (80) hidup sebatangkara di gubuk reyot dengan kondisi fisik lumpuh.

LEBAK, BANTENDAY.com– Nenek Muklinah (80) warga Kampung Pasir Buntu Desa Lebak Pendeuy Kecamatan Cihara, Lebak Provinsi Banten, lebih dari 20 tahun tinggal di gubuk reyot. Usianya yang sudah uzur, sungguh membuat hati iba, karena sang nenek harus menghabiskan waktunya di dalam gubuknya sebatangkara.

Petugas PPS Desa Lebak Pendeuy, Heri menuturkan, saat itu dirinya sedang bertugas dengan PPDP (Petugas Pemutahiran Data Pemilih) Pilkada serentak 2018 melakukan tugas Coklit (Pencocokan dan Penelitian) di Kampung Pasir Buntu Desa Lebak Pendeuy tersebut. Saat itu kata Heri, dirinya melakukan Coklit ke rumah milik Muklinah (80 tahun) dan disitulah Heri merasa kaget dengan kondisi gubuk yang diisi oleh Nenek Muklinah.

“Saya sedang tugas Coklit dengan petugas PPDP, kebetulan rumah yang kami Coklit rumah milik Nenek Muklinah. Dan saat itu saya kaget dengan kondisi rumah Nenek Muklinah yang tak layak huni” ungkap Heri kepada awak media, Sabtu (10/02/18).

Menurut Heri, Mak Emuk (sapaan sehari-hari Nenek Muklinah) saat ini mengalami lumpuh pada kedua tangannya akibat sengatan ular berbisa. “Saat saya tanya, Mak Emuk bilang lumpuh pada kedua tangannya akibat sengatan ular berisi,” imbuhnya.

Di dalam gubuknya yang pengap dan sudah miring ini kata Heri, Mak Emuk hidup tanpa bantuan seorangpun, pasalnya, anak satu-satunya dari Mak Emuk yang tinggalnya tak jauh dari gubuk Mak Emuk, bernasib sama tidak berkecukupan dalam kehidupannya sehari-hari.

“Mak Emuk tinggal sendirian, anaknya tinggal sama keluarganya tak jauh dari rumah Mak Emuk, namun kondisi anaknya juga tidak cukup untuk menghidupi keluarganya sehari-hari,” paparnya.

Heri juga warga desa setempat mengharapkan ada uluran tangan dari pemerintah maupun dari para dermawan yang ingin membantu memperbaiki kondisi rumah Mak Emuk yang kondisinya tak layak huni.

“Saya harap pemerintah maupun dermawan mau membantu Mak Emuk, kasian rumahnya tak layak huni dan hanya sebatang kara tinggalnya,” harap Heri.

Mendengar cerita dari warga sekitar, wartawan pun mencoba mengunjungi gubuk yang dihuni oleh Nenek Muklinah itu. Di gubuk berukuran sekitar 2,5 X 4 meter itu Mak Emuk tinggal. Gubuk itu berlantaikan tanah padat sebagian dan bale-bale.

Kata Mak Emuk, kondisi rumahnya sebenarnya memang tidak layak huni, namun karena keterbatasan kemampuan akhirnya Nenek itu tetap tinggal di gubuk itu. Menurutnya, setiap musim hujan atap rumahnya yang pada bolong, selalu bocor. Tidak hanya itu, dia juga menuturkan bahwa saat hujan sering jenis binatang melata merayap ke dalam gubuknya yang tidak ada penerangannya tersebut.

Mak cicing digubuk ieu sieun mun usim hujan, hatepna tos balocor ja ku barolong, haju teu aya lampu deui anu caang. (Mak tinggal di Gubuk ini takut kalau musim hujan, atapnya sudah bocor karena sudah pada bolong, kemudian tidak ada lampu juga yang terang),” kata Nenek Muklinah dengan raut sedih.

Nenek Muklinah berharap agar mendapatkan bantuan dari pemerintah maupun relawan yang ingin membantu rumah gubuknya tersebut.

Mak ngeun ngaharepkeun bantosana, tos 20 tahun cicing di gubuk jeng sa-ayaayana bae
(Mak hanya berharap ada yang bantu, karena sudah 20 tahun tinggal di rumah ini dengan seadanya),” ucapnya. (OR)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Author: 
author

Comments are closed.