RSUD  Pandeglang  Kerap Diminta Pengobatan Gratis Sejumlah Oknum 

3710 views

RSUD Berkah Pandeglang ( dok: bantenpos.co)

PANDEGLANG, BANTENDAY.com  – Sejumlah dokter spesialis di rumah sakit umum daerah (RSUD) Berkah, Pandelang, Banten, mengancam mundur, akibat banyaknya oknum yang mengaku sebagai LSM, oknum anggota DPRD, dan oknum yang mengaku sebagai anggota tim sukses (timses) pasangan bupati dan wakil bupati Irna Nurulita –Tanto W Arban, meminta pengobatan gratis untuk saudara, konstituen dan kerabat oknum tersebut saat berobat ke rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut.  Hal ini diungkapkan direktur RSUD Berkah Pandeglang, dr Hj Asmani Raneyanti, Selasa (6/9/2016).

“Yang sangat kami sayangkan itu adalah, saat mendaftar ke rumah sakit pesien itu masuk sebagai pasien umum, dan mendapatkan perawatan di ruangan VIP. Namun, tidak lama kemudian datang oknum yang mengaku sebagai LSM, anggota dewan dan timses membawa surat SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) atau BPJS bagi pasien tersebut,” ungkap dr Asmani Raneyanti.

Padahal menurut  Asmani, management rumah sakit selama ini tidak pernah membeda bedakan pelayanann antara pasien umum dan pasien BPJS atau yang membawa surat SKTM.Namun saat mendaftar, sebaiknya pasien tersebut berterus terang jika dia adalah pemegang kartu BPJS atau memiliki SKTM, sehingga rumah sakit tidak mengalami kerugian.

”Sudah banyak dokter disini yang ingin mengundurkan diri, karena merasa menjadi sapi perahan, akibat banyaknya oknum yang meminta pasien umum berobat secara gratis,” imbuhnya.

Diungkapkan, banyak perawat dan tenaga administarsi yang ketakutan, karena dibentak oleh oknum oknum tersebut saat mereka mengurus pasien umum menjadi pasien BPJS Mndiri atau SKTM.” Banyak tenaga perawat dan bagian administrasi yang mengadu kepada saya, jika mereka kerap mendapat perlakuan yang kurang mengenakan dari oknum oknum yang mengurus pasien umum menjadi pasien BPJS,” ungkapnya. 

Dia menjelaskan, dalam menuju pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), rumah sakit harus menerapkan cash flow yang terukur, karena setiap hari harus setor ke kas pemda. Sehingga dirinya berharap, agar pasien berterung terang sejak awal mendaftar untuk berobat, apakah dia pasien umum atau pemegang kartu BPJS atau SKTM, agar keuangan rumah sakit tidak defisit.

Selama ini yang terjadi menurut Asmani, ketika masuk pasien menandatangani surat pendaftaran diatas materai sebagai pasien umum dan minta dirawat di ruangan VIP. Tidak lama kemudian, dia membawa katabelece dari oknum anggota  timses, oknum anggota dewan dan oknum LSM, jika dia itu adalah pasien BPJS mandiri dan BPJS murni, serta membawa surat SKTM.

“Siapapun yang datang berobat ke rumah sakit, apakah itu pasien miskin dan tidak membawa kartu BPJS atau SKTM saat mendaftar, tetap akan kami layani, asal dari awal mereka berterus terang,” tandasnya.(Eli/A1)