Praktek Pencaloan SIM Di Kota Tangerang Masih Terjadi

4763 views

image

Ilustrasi/net

Bantenday.com, Tangerang – Jalan Taman Makam Pahlawan Taruna No.7, Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Banten yang tidak jauh dari Kantor Pengadilan Negeri Tangerang,  kini diduga menjadi surganya para calo pemohon surat izin mengemudi (SIM).

Pengadilan Negeri sebagai pengadilan tingkat pertama untuk memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara pidana dan perdata bagi rakyat pencari keadilan seharusnya bebas dari praktek-praktek kotor dan percaloan.

Namun, praktik percaloan masih saja terjadi. Hal paling mudah ditemui adalah praktik percaloan untuk mengurus persidangan tilang (bukti pelanggaran) SIM yang sudah lama terjadi di Pengadilan Negeri (PN) kota Tangerang.

Berdasarkan pantauan, sejumlah calo bebas berkeliaran menawarkan jasa pengurusan tilangan sambil menjadi juru parkir di Jl TMP Taruna  kota tangerang, dengan menyanggupi mampu menebus surat izin mengemudi (SIM) yang ditahan petugas hanya dalam tempo tiga puluh menit hingga satu jam.

Para calo biasanya sudah tahu dan hafal ciri-ciri masyarakat yang ingin mengurus sidang lewat jasa calo, begitu motor atau mobil parkir di depan kantor pengadilan calo segera menghampirinya.

“Mau urus sidang tilangan ya bang? Saya bisa bantu cukup Rp 100 ribu untuk SIM C dan Rp 120 ribu untuk SIM A. Kalau mau tunggu saja paling lama satu jam selesai,” ujar salah satu calo SIM, jumat (29/4/2016).

Sebuah tawaran dari calo menarik karena jika mengurus sendiri harus rela antre dan tentu memakan waktu yang cukup lama. Dalam sehari saja, jumlah sidang tilang bisa mencapai ratusan hingga ribuan berkas.

Kartika  (26), bukan nama sebenarnya mengaku jika dalam sehari dirinya bisa membawa pulang uang antara Rp 300 ribu – Rp 450 ribu, tapi kalau tilangan lagi ramai dirinya mengaku bisa membawa pulang hingga Rp 700 ribu.

“Kalau lagi mujur biasanya dapat Rp 300 ribu tapi kalau lagi musim razia pasti tilangan ramai bisa bawa pulang uang lebih banyak lagi bang,” ujarnya.

Kartika menambahkan dari uang tebusan tilangan tersebut nantinya uang akan dibagi-bagi, dirinya dapat uang jasa sebesar Rp25 ribu, untuk oknum jaksa Rp25 ribu, serta oknum polisi Rp50 ribu.

Ironisnya, di Kantor Pengadilan Negeri sendiri terpampang tulisan himbauan yang melarang adanya praktik percaloan sidang tilang di PN tangerang.

Namun himbauan tersebut sepertinya tiada arti dan seolah hanya sebagai penghias.

Prosedur sidang tilang sendiri sebenarnya tidak rumit. Pelanggar tinggal menunjukkan surat tilang, kemudian mendaftar di loket pendaftaran, lalu menunggu panggilan.

Kusnaedi warga Periuk Kota Tangerang, sangat unik saat akan mencari ke adilan, saat memasuki ruang tilang, tidak ada hakim malah banyak petugas pengadilan yang tidak menggunakan seragam. Yang melayani para calo SIM.

Saat menanyakan surat tilangangan ke petugas yang tidak ingin dibsebutkan namanya. Tilangangan anda belum nyampe ke pengadilan. Masih di kantor polisi.

Ia menanyakan ke seorang calo, ” kok tilang saya belum nyampe ya mas,” tanyanya. Kemudian calo yang enggan di sebutkan namanya itu mengatkan ”  Ia itu kalau belum nyampe objekan petugas kepolisian biar nebus di kantor Polisi,” jawabnya.

Kusnaedi pun langsung bertolak ke kantor Polisi Metro Yangerang. Iapun menanyakan bagian tilang di mana. Petugas kepolisian yang menggunakan baju preman menunjukkan ke ruangan di belakang.Ok terimakasih pak kata saya, kemudian saya bertanya kepada petugas di ruangan, maaf pak saya mau ambil tilangan, petugas mengatakan mana uang tebusan nya? Saya berapa duit pak? petugas menjawab 150 ribu? Saya bilang ada 50 ribu. ? Ya sudah ga apa -apa kata petusa itu,” papar Kusnaedi sambil menjelaskan ribuan berkas tilangan kendaraan roda dua maupun roda empat di ruangan tilang menumpuk.( gus/a1)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Penulis: 
author

Isi dengan Komentar anda...