Gunakan Advokat Dalam Pinjaman Macet, Bangkit Abaikan Azas Koperasi?

619 views
image

ilustrasi/ist

bantenday.com, Lebak – Koperasi Bangkit dituding mengabaikan azas koperasi, yaitu kekeluargaan dan gotong royong. Pasalnya, Koperasi milik Kemenag Lebak ini telah menggunakan jasa pengacara atau advokat dalam manarik pinjaman yang macet dari anggotanya. Padahal, hal itu bisa dilakukan oleh dan melalui rapat pengurus dan badan pengawas koperasi tersebut.

“Kami menilai dan menduga koperasi bangkit ini telah menyimpang dari azas dan tujuan koperasi yang sesungguhnya. Kenapa demikian, ya itu tadi dalam menyesaikan pinjaman yang macet saja harus menggunakan advokat. Jelas ini juga bentuk ketidak mampuan pengurus koperasi tersebut dalam memenej ” ungkap salah satu anggota koperasi tersebut yang namanya minta dirahasiakan di Rangkasbitung, Minggu (20/3)

Memang untuk menyelesaikan pinjaman anggota yang macet ini, bagi pihak koperasi tersebut tidak ada larangan untuk menggunakan jasa pengacara. Hanya saja, sambung sumber tadi, hal itu akan menyedot anggaran koperasi juga. Apalagi dalam rencana anggaran belanja koperasi tahun 2016 ini, untuk biaya jasa advokat disinyalir tidak dianggarkan. Dengan demikian itu artinya pihak pengurus koperasi bisa dikatagorikan menyalah gunakan anggaran.

“Dan ini tentunya merupakan perbuatan melawan hukum,”katanya

Anehnya lagi , kata sumber tadi , penilaian mereka  bahwa koperasi bangkit ini telah mengabaikan azas dan tujuan koperasi. Karena , pinjaman-pinjaman para anggota yang macet ini, jumlah membengkak.

“Misalnya, pinjaman pokok sekitar Rp 47 jutaan , sekarang kami harus bayar sekitar Rp 300 jutaan. “ujar sumber.

Umumnya, lanjut sumber tadi anggota (Sekarang non aktif) ,karena pensiun atau pindah tugas dari lingkungan Kemenag Lebak, yang ditagih oleh pengacara ini. Selama mereka non aktif sebagai anggota, tapi masih mempunyai pinjaman ke koperasi tersebut mengaku sebelumnya tidak ada surat teguran atau peringatan dari koperasi. Tapi saat ini tiba-tiba saja, anggota koperasi non aktif ini di berikan surat oleh pengacara, agar segera menyelesaikan pinjamanya.

“Ya, kami kaget juga ,apalagi nilai utangnya berlipat lipat dari pinjaman pokok yang kami terima dan belum bisa kami selesaikan. Sebenarnya, kami ini mengakui punya utang, tapi ya mustinya pihak koperasi bisa mengedepankan dan memegang teguh azas dan tujuan koperasi yang sesungguhnya. Sebab, anggota yang non aktif dan masih mempunyai kewajiban ke koperasi tersebut sudah pada pensiun dan bahkan ada yang sudah meninggal , bahkan boleh dibilang adatelah yang telah berjasa juga terhadap kelangsungan koperasi tersebut,”katanya

Sementara itu, Sudirman ketua Koperasi Bangkit didampingi Pengacaranya dari kantor pengacara Nujulhakim and Fartner Jakarta Edwin mengatakan, upaya itu terpaksa dilakukan pihak koperasi tersebut, karena upaya persuasif dan kekeluargaan telah dilakukannya.Tapi para anggota non aktif ini tetap saja tak mau menjalankan kewajibannya.

“Kita ini punya ke wajiban ke bank yang harus di penuhi tiap bulannya. Sementara uangnya macet di para anggota non aktif ini. ” Ujar Edwin seraya enggan menyebut jumlah anggota non aktif yang mempunyai tunggakan utang serta berapa nilai utang seluruhnya yang macet, dengan alasan hal itu sudah menyangkut materi.

“Karena soal jumlah tagihan macet ini sudah masuk pada materi pokok, mohon maaf kami tidak bisa memberikan penjelasan ” kilah Edwin.

Upaya yang di lakukan pihak koperasi menggandeng dirinya selaku pengacara koperasi tersebut, kata Edwin, tidak lain agar para anggota koperasi non aktif yang masih memiliki kewajiban utang ini bisa segera menyelesaikannya.

“Kita sudah kirim surat dua kali, tujuannya tidak lain untuk memusyawarahkan dan menyelesaikan tunggakan mereka secara kekeluargaan.Ya, bagaimana bisa diselesaikan, la orangnya saja ada yang datang ada yang tidak. Meski demikian kami berharap ada itikad baik dari mereka, sebelum kami mengambil langkah hukum selanjutnya .Apa yang kami lakukan ini tidak menyimpang dari azas dan tujuan koperasi ,” kata Edwin.

Informasi yang didapat, dari sekitar 545 anggota koperasi Bangkit, diperkirakan ada sekitar 40 anggota lebih koperasi  yang mempunyai tunggakan , mereka umumnya merupakan anggota yang telah non aktif (pensiun dan bahkan ada yang telah meninggal), dan utangnya mencapai sekitar miliaran rupiah termasuk dengan bunganya yang terus berjalan dengan bungan 2 % per bulan. Selain itu , saat ini pihak koperasi juga mempunyai pinjaman modal ketiga bank, satu bank pemerintah dan dua swasta yang ada di Rangkasbitung dan Jakarta, dengan  nilainya mencapai belasan miliar rupiah.(Akmal/a1)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Penulis: 
author

Isi dengan Komentar anda...