Gubernur Harapan Rakyat Banten, Adakah?

3469 views


BANTENDAY.com- Adanya adagium tidak ada yang abadi dalam politik, yang ada hanya kepentingan yang abadi, rupanya begitu kentara dan terasa dalam Pilgub Banten 2017. Dari yang tadinya lawan menjadi kawan begitu juga sebaliknya, seakan mempertontonkan bahwa elit politik saat ini sedang bermain sandiwara.

Sebut saja Wahidin Halim yang tadinya anti dinasti justu dalam Pilgub Banten 2017 diyakini berpasangan dengan Andika, yang tentu saja Andika Hazrumy adalah anak Gubernur Banten Atut Chosyah, yang keluarga besarnya saat ini menjadi memegang jabatan strategis di kabupaten kota yang ada di Banten.

Begitu juga dengan Dimyati Natakusuma tiba-tiba memundurkan diri dari jalur perseorangan hingga kabarnya meninggalkan kekecewaan pasanganya Yemelia. Tak terkecuali dengan Rano Karno sebagian menilai bahwa si Doel pun merupakan warisan dinasti atut.

Mengutip Zumri Bestado Sjamsuar dalam tulisnya berjudul Gran Teori Politik Negarawan mengungkapkan bahwa aristoteleslah yang pertama-tama menyatakan bahwa manusia itu mahluk politik atau zoon politico. Politik selalu berhubungan dengan polis dalam konteks Yunani purba. Polis adalah suatu negara, kota.

Polis ini juga terkait dengan policy atau kebijakan dan kebijakan itu adalah mengandung unsur politis. Akan tetapi dalam kebijakan sesungguhnya tidak hanya unsur politis yang dikandungnya tetapi juga wisdom atau kebijaksanaan sesuatu yang sering diabaikan dan dilupakan dalam politik.

Unsur politik adalah kepentingan dan unsur wisdom atau kebijaksanaan adalah nilai. Bila orang mengabaikan unsur ini dalam kepentingan, maka politikpun akan dipahami dan dijalankan dengan kaca mata kuda, dan terperangkap dalam kepentingan saja, sehingga muncul adagium, tidak ada kawan atau atau lawan yang abadi dalam politik, yang ada hanya kepentingan yang abadi.

Pernyataan yang demikian itu adalah faham politik oartisan yang terasing dalam nilai, bukan politik Negarawan yang menyatukan politik dan nilai. Hal ini harus disadari betul bagi orang-orang yang berhasrat menjadi pengelola Negara.

Manusia Yunani purba itu mengelola polis dalam upaya mereka memenuhi kebutuhan dan kepentingannya berdasarkan nilai-nilai yang mereka yakini. Dalam polis ini orang-orang merdeka mengelola polis itu dengan cara-cara demokrasi, walaupun saat itu masyarakat yunani purba masih terbagi menjadi kelompok orang-orang merdeka dan kelompok budak serta adanya diskriminasigender yakni tidak ada hak pilih bagi wanita dan akibatnya wanita tidak dapat menjadi anggota senat.

Akan tetapi, disitu sudah terlihat bahwa manusia itu pusat kepentingan-kepentingan dan nilai-nilai yang diresapi hasrat untuk berkuasa.

Mencari sosok pemimpin Banten yamg negarawan seperti mencari jarum dalam dalam hamparan jerami, betapa sulitnya. Singga yang muncul pemimpin yang tidak baru, tapi muka-muka lama kaum elit politik di Banten.

Keluarlah kata ‘ luh lagi, luh lagi’ meminjam ucapan Taufik Rachman Ruki salah satu tokoh Banten, kesulitan mencari pemimpin Banten yang negarawan diakuinya dalam demokrasi ini.

Namun ditengah sulitnya mencari pemimpin negarawan itu, dalam hal ini Gubernur Banten harapan rakyatnya, kita tetap berharap dalam Pilgub Banten 2017 menghasilkan pemimpin yang mementingkan rakyat Banten, dan tidak menghianati tujuan dan cita-cita para pendiri Provinsi Banten.(red)

Adakah? Banten Gubernur Harapan Rakyat